| Short Profile |
ADRIANUS MELIALA
Drs., MSi., MSc., Ph.D., Prof. |
|
 |
|
|
| Biography |
Memilih Pasangan Hidup dari Perhitungan Kalkulatif
SEBAGAI seorang dosen dan kriminolog, kesibukan Adrianus Meliala terbilang padat. Kendati begitu tak membuat dirinya lupa melaksanakan kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Apalagi saat ini kegiatannya lebih banyak dilakukan di rumah. Karena sosok pria berkacamata ini begitu menyayangi keluarga. Berikut petikan obrolan singkatnya dengan wartawan Berita Kota Hesti Hening YB di Kampus UI belum lama ini.
Bagaimana kabar Anda?
Seperti yang terlihat, saya tetap sehat dengan segala kesibukan. Saya bersyukur selalu diberikan kesehatan seperti ini.
Apa kegiatan saat ini?
Saya masih berkutat di bidang akademi seperti mengajar dan memberikan bimbingan kepada mahasiswa. Saya juga masih tetap menulis dan melakukan penelitian yang berhubungan dengan masalah-masalah kriminologi, terutama yang berkaitan dengan polisi dan kejahatan trans Nasional.
Seberapa sibuk Anda dengan kegiatan sekarang?
Kalau dibilang seberapa sibuk, sejak dulu saya memang suka menyibukkan diri. Tentu saja kesibukan yang bermanfaat. Dibandingkan dahulu, saya merasa saat-saat ini tidak terlalu sibuk. Karena pada dasarnya kesibukan saya lebih banyak mengajar. Hal ini yang membuat saya lebih banyak di rumah.
Apa kegiatan di rumah?
Seperti layaknya seorang kepala rumah tangga, kalau di rumah saya tentu saja membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Misalnya memerhatikan anak-anak, membersihkan rumah, ngepel, dan sebagainya. Kegiatan seperti ini saya anggap sebagai bentuk olahraga. Apalagi sebenarnya saya ini malas berolahraga.
Arti keluarga bagi Anda?
Saya melihat keluarga itu sebagai salah satu proses kehidupan. Dimana awalnya saya melihat keluarga sebagai tempat aktualisasi diri, kemudian berubah menjadi tempat berlabuh. Kini saya melihat keluarga sebagai bagian dalam hidup saya yang tidak mungkin dipisahkan.
Maksudnya?
Pertama sebelum menikah saya melihat berkeluarga hanya sebagai bentuk aktualisasi diri. Saya hanya melihat yang penting bisa membahagiakan orangtua. Lama-lama saya merasa membutuhkan keluarga sebagai tempat berlabuh. Saat saya pulang dengan badan letih tiba-tiba semangat lagi begitu melihat anak-anak. Begitu anak-anak mulai beranjak dewasa, saya sadar tidak bisa lepas dari bagian yang namanya keluarga. Pasalnya jika ada kegagalan dalam keluarga seolah itu kegagalan saya.
Bagaimana awal pertemuan dengan istri?
Bisa dikatakan saya ini menikah awalnya hanya kejar target. Waktu itu 1996, orangtua sudah meminta saya menikah. Apalagi setahun setelah itu saya harus pergi menuntut ilmu ke luar negeri. Orangtua ingin sebelum ke luar negeri saya sudah menikah. Akhirnya selama setahun itu saya kejar target mencari pasangan yang pas. Saya cari lewat teman maupun mencari sendiri. Pokoknya perempuan Batak. Alhasil saya sempat pacaran dengan 10 perempuan Batak. Dari 10 inilah saya memilih istri saya yang sekarang.
Alasan memilihnya?
Jujur, saya memilih berdasarkan hitung-hitungan kalkulatif. Saya juga melihat seperti apa kata orang Jawa, yaitu bibit, bobot, dan bebet. Saya memilih istri karena dia anak bungsu dan abang-abangnya telah hidup mapan. Jadi, saat itu saya berpikiran kalau saya hidup dengannya tidak akan ada yang mengganggu. Saya pacaran hanya 2,5 bulan. Saat itu yang penting hal-hal mendasar sudah cocok. Setelah semua perhitungan dan rasa saling suka akhirnya saya menikah. Namun hanya selang tiga pekan, istri langsung saya tinggal ke Inggris untuk studi. Beruntung istri saya sudah tahu dan memahami hal itu. Bahkan saat saya tinggal dia sedang hamil.
Bagaimana sepulang dari Inggris?
Selama setahun meninggalkan istri akhirnya saya pulang ke Tanah Air. Saya mulai menata kehidupan rumah tangga, terlebih sudah ada momongan. Bahkan rasa cinta saya terhadap istri semakin besar. Saya makin sayang dan memberikan perhatian lebih pada keluarga.
Kenangan terindah bersama istri?
Karena masa pacaran singkat, kenangan indah bisa dikatakan tidak ada. Justru kenangan terindah terjadi saat kami sudah menikah. Saat itu pada 2002, saya memboyong anak dan istri ke Australia. Di sana saya belajar dan menetap dengan segala keuangan yang pas- pasan. Kesulitan keuangan ini membuat saya harus menjadi supir taksi dan tukang cuci piring. Beruntung istri memberikan dukungan penuh dan tidak pernah mengeluh.
Bagaimana Anda memandang istri?
Saya itu sosok yang sebenarnya takut pada istri. Saya paling takut kalau istri sudah marah dan mendelik. Kendati begitu saya menganggap istri adalah soulmate. Istri sebagai penyeimbang dan pengontrol dalam hidup. Istrilah yang sering mengingatkan dan mengarahkan agar saya tidak salah langkah. Saya ini punya semangat kerja yang tinggi. Namun terkadang lupa pada kondisi diri. Istrilah yang sering mengingatkan dan mengerem hal itu.
Pola pendidikan seperti apa yang diterapkan pada anak?
Saya terhadap anak laki-laki lebih keras. Walaupun tak pernah membedakan satu sama lain. Pastinya saya ingin memberikan kesadaran pada mereka bahwa hidup ini keras dan tidak bisa untuk bersantai. Jadi saya memberikan pendidikan formal maupun informal yang terbaik.
Sebagai kriminolog, bagaimana memandang kejahatan di sekitar mereka?
Kejahatan memang bisa terjadi di mana dan kapan saja. Untuk itu saya sangat ketat mengawasi anak. Diawali dengan selalu mengetahui ke mana anak pergi, dengan siapa saja, dan siapa orangtua teman-teman anak saya. Bahkan saya sesekali melakukan inspeksi dengan memeriksa tas mereka terhadap hal-hal yang tak diinginkan. Pernah suatu kali anak pulang larut malam dan sebelumnya tak memberi kabar. Begitu pulang langsung saya bawa anak ke rumah sakit dan ambil darah serta urine. Tujuannya apakah si anak terlibat obat-obat terlarang atau tidak. Tindakan ini saya lakukan sebagai shock therapy daripada harus marah marah atau memukul.
Sempat kehilangan anak?
Ya, saat itu 2006, anak baru lahir dan langsung masuk ICU. Selama sebulan saya sedih melihat anak dalam perawatan. Saat meninggal memang ada rasa kehilangan tapi akhirnya saya rasional. Saya malah bersyukur penderitaannya berakhir.
Harapan ke depan?
Gelar guru besar memang sudah saya dapatkan dan kini tengah menikmatinya. Namun jika dikabulkan dan diizinkan, suatu saat ingin menduduki jabatan publik. O
Ingin Duduki Jabatan Publik
SEBAGAI seorang kriminolog, Adrianus Meliala mengaku sempat mendapat didikan keras orangtuanya. Meski sejak kecil dirinya hanya dididik oleh ibunda tercinta. Toh kondisi tersebut tak lantas membuat Adrianus tumbuh menjadi sosok yang cengeng. Adrianus bahkan mampu hidup mandiri sejak kecil.
Diakui, tidak mudah menjadi seorang yang mandiri. Perjuangan berat dan panjang harus dijalani. Pria penyandang gelar profesor ini sempat bekerja di sebuah media. Bahkan saat mengambil studi di Australia malah nyambi jadi supir taksi dan tukang cuci piring.
Kini setelah berkeluarga, Adrianus memosisikan dirinya sebagai suami dan ayah yang baik. Bahkan keharmonisan biduk rumah tangga yang dibinanya bersama Maria Regina Rosari Ginting, yang akrab disapa Regina itu kian bahagia. Padahal sebelumnya tak pernah terbayang kalau Regina yang akan mengisi hari-harinya menjalani kehidupan.
Konflik dalam rumah tangga dianggap sebagai bumbu kehidupan. Apalagi Adrianus selalu memegang prinsip untuk tidak membiarkan ketegangan lebih dari dua hari. Baginya, konflik jika dibiarkan lebih dari dua hari akan menimbulkan eskalasi (peningkatan konflik).
Di usia pernikahan yang telah menginjak 16 tahun, Adri mengaku tak takut menjalani bahtera rumah tangga. Baginya, semakin tua usia pernikahan maka suami-istri akan semakin dekat.
Diakui, godaan sering datang terutama dalam bentuk perselingkuhan atau kehadiran Wanita Idaman Lain (WIL). Namun semua mampu diatasi. Godaan materi juga kerap menghampiri, seperti keinginan korupsi, politik kotor, dll. Sekali lagi Adrianus menganggap semua sebagai tantangan untuk tetap tegar dan amanah.
Bisa dikatakan, kini semua keinginan hidupnya telah terpenuhi. Hanya satu keinginan yang masih dikejarnya. Dia ingin menduduki jabatan publik. Hal ini diakuinya atas dasar keinginan untuk melayani rakyat. Hanya saja dalam pencapaiannya ini Adrianus mengaku tidak ngoyo. Saat ini dia memilih untuk lebih banyak memberikan hasil kerja nyata bagi masyarakat. Salah satunya dengan berbagai penelitian yang tengah dikerjakan. O hst
Sumber: Berita Kota |
|
|
|
|
|